Dakwah Kepada Syahadat Tauhid “LA ILAHA ILLALLAH (لا إله إلا الله) ”

21/01/2009

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Pada kajian Tauhid kali ini, saya ingin menyampaikan pentingnya berdakwah Kalimat Tauhid “LA ILAHA ILLALLAH ( لا إله إلا الله) yang berarti “Tidak Ada Tuhan Yang berhak di Sembah Selain Allah.”

Hal utama yang perlu diketahui bahwa, dakwah terhadap kalimat tauhid ini adalah yang paling utama dilakukan sebelum dakwah-dakwah yang lainnya. Inilah dakwahnya seluruh para Nabi/Rasul Allah Subhanallahu wa Ta’ala, yang senantiasa mengajak kaumnya kepada kalimat tauhid ini. Sebagaimana dapat kita temukan di dalam Al-Qur’anul Kariim

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

[Q.s 12:108] “Katakanlah : “inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, aku berdakwah kepada Allah dengan hujjah yang nyata, maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik“.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

[Q.s 3:64]. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهَا أُمَمٌ لِّتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِيَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَـنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ

[Qs. 13:30] Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dia-lah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

[Qs 18:110] Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

[Q.s 7:158]. Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.

dan disebutkan didalam Hadits baginda Rasullah SAW dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata: ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda kepadanya :

إنك تأتي قوما من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – وفي رواية : إلى أن يوحدوا الله -، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب

“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat La Ilaha Illallah – dalam riwayat yang lain disebutkan “supaya mereka mentauhidkan Allah”-, jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan pada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dan Allah” (HR. Bukhori dan Muslim).

Berdasarkan dalil-dalil tersebut diatas, maka dengan ini saya pribadi mengajak kepada pembaca umumnya untuk masuk kedalam Dienul Islam dengan bersaksi bahwa “Tidak Ada Tuhan yang berhak di Sembah Selain Allah, dan Muhammad Adalah Hamba dan Rasul Allah“; dan kepada pembaca muslim, saya mengajak senantiasa mengutamakan menyampaikan Dakwah Kalimat Tauhid LA ILAHA ILLALLAH (لا إله إلا الله), disamping dakwah-dakwah lain yang utama.

Semoga Allah Azza Wa Jalla, senantiasa menjadikan diri kita tetap “istiqamah” untuk menyampaikan atau berdakwah mengenai perkara-perkara yang Haq (benar) adalah Haq, dan yang Bathil (salah/sesat) adalah Bathil;  di atas  Sunnah Baginda Rasulullah SAW, amin.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

[Qs. 3:110]. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

—————————————-

Syukran


Siapakah Nabi Allah ‘Isa Ibnu Maryam ?

12/01/2009

(Dari Perspektif Muslim-Bagian 1)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Di awal tulisan ini, saya ingin menyampaikan point penting dari sebuah Firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an pada Surat An-Nisaa’ ayat 171.

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلاَ تَقُوْلُوْا عَلَى اللهِ إِلاَّ الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَلاَ تَقُوْلُوْا ثَلاَثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَكَفَى بِاللهِ وَكِيْلاً

“Wahai ahli kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan merupakan salah satu ruh yang diciptakan-Nya. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kalian mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagi kalian. Sesungguhnya Allah adalah Ilah yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (An-Nisa`:171)

Nah, Siapakah Nabi Allah ‘Isa Ibnu Maryam, atau yang lazim di sebut dengan Nabi ‘Isa as (semoga tercurah kesejahteraan atasnya) yang terdapat dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Hadits Rasulullah SAW.

Nabi Allah ‘Isa as. adalah seorang “hamba Allah”, dan sekaligus juga sebagai salah seorang “Nabi Allah”. Tidak berhenti sampai pada makna “hamba” dan “nabi Allah” saja, melainkan Nabi Allah ‘Isa as juga sebagai salah seorang yang mengemban amanat kerasulan dipundaknya bagi umat bani ‘israil pada masa itu.

Sebagaimana hal ini jelas termaktub di dalam Qs. 19:30.

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيّاً

30. Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

dan pada Qs. :43

إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلاً لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ

59. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail

serta pada Qs. 61:6

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

6. Dan (ingatlah) ketika ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

Hal ini juga termaktub di dalam Hadits dari Rasulullah SAW, yang bersabda :

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ

“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah tiada sekutu baginya, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Isa adalah hamba dan utusan-Nya kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta merupakan salah satu ruh ciptaan-Nya, surga adalah haq dan neraka adalah haq, maka akan Allah masukkan dia ke dalam surga sesuai dengan amalannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

a. Nabi ‘Isa as adalah salah seorang hamba Allah

Kata “عَبْدٌُ = hamba” didalam bahasa arab termasuk kata benda (اِسْمٌُ) yang bersumber dari akar kata “عبد” (“’ain-ba-da”). Sementara itu jika dilihat dari kata kerjanya (Fi’il) maka عَبَدَ mengandung makna “sembah/menyembah“. Dimana bentuk tasrif Fi’il Mudhari’nya dengan pola يَفْعُلُ sesuai dhamirnya masing-masing bisa menjadi :

اَعْبُدُ- يَعْبُدٌ- تَعْبُدُ- نَعْبُدُ- تعْبُدُوْنَ-يَعْبُدُوْنَ

dengan arti : “saya sembah”, “dia sembah”, “engkau sembah”,”kami sembah”,”kalian sembah”,”mereka sembah”.

Contohnya dapat kita jumpai  pada :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

[Q.s 1:5] Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَقُولُ أَأَنتُمْ أَضْلَلْتُمْ عِبَادِي هَؤُلَاء أَمْ هُمْ ضَلُّوا السَّبِيلَ

[Qs. 25:17] Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allah menghimpunkan mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah); “Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?”.

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

[Qs. 109:2] Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

dan dapat juga  ditemukan  pada ayat-ayat  lainnya.

Di dalam Al-Qur’an sebutan kata “hamba” sering kita jumpai,  seperti halnya pada :

فَوَجَدَا عَبْداً مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْماً

[Qs. 18:65] Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba (Khidr) di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami

ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا

[Qs. 19:2] (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَاِمْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

[Qs. 66:10] Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِين

[Qs. 37:132] Sesungguhnya dia (‘Ilyas) termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ

[Qs. 38:17] Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

[Qs. 38: 30] Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya),

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

[Qs. 38:45] Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.

رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ

[Qs. 40:15] (Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحاً مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُوراً نَّهْدِي بِهِ مَنْ نَّشَاء مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

[Qs. 42:52]Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus

———————-

Kesimpulan I:

Nabi ‘Isa as, adalah salah seorang hamba Allah SWT, sebagaimana halnya hamba-hamba Allah SWT yang lainnya. Dimana hakikatnya pengabdian seorang hamba adalah  tunduk, patuh dan  hanya menyembah kepada Allah SWT saja sebagai penciptanya. Hal ini sesuai dengan hakikat penciptaan manusia dan jin yang disebutkan Allah SWT di

[Qs. 51:56]. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

[Qs. 39:2]. Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya.”

Syukran
... Insyaallah, bersambung ...
------------------------------


2. Kaidah Tanwin (an, in, un )

03/01/2009

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Pada pelajaran I terdahulu, kita telah mengenal kaidah ‘Alif Lam. Nah, saat ini saya akan mencoba menyajikan Kaidah Tanwin (an, in, un), yang lazim di kenal sebagai lawannya dari ‘Alif Lam atau اَل.

Apa itu Tanwin ..?.

Tanwin adalah tanda baca berupa bunyi nun mati yang terdapat di akhir kata sifat atau kata benda. Tanwin mengandung arti “sebuah”, “seorang”, “sepucuk”, “sebutir”, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan pengertian “tidak tertentu/indefinite”, dan istilah ini sering di sebut “Nakirah (نَكِرَةٌُ ).

Tanwin sendiri terdiri dari 3(tiga) macam, yaitu :

1. an (ًَ ) , yang di sebut juga Fathahtain =   فَتْحَتَيْنِ
2. in ( ٍِ ), yang disebut juga Kasrohtain = كَسْرَتَيْنِ
3. un (ٌ ), yang disebut juga Dommahtain = ضَمَّتَيْنِ

Contohnya :

كِتَابٌُ = Pada contoh disamping dibaca “kitaabun = (sebuah buku)”. Kata “Kitaabun” belum dapat menunjukkan pada buku tertentu. Kata tersebut bisa menunjukkan buku fisika, buku matematika, buku agama, dll.

طَبِيْبٌُ = Pada contoh di samping dibaca “Thabiibun = (seorang dokter)”. Kata “Thabiibun” belum dapat menunjukkan pada dokter tertentu. Kata tersebut bisa menunjukkan dokter umum, dokter bedah, dokter penyakit dalam, dll. Khusus pada “Fathahtain (فَتْحَتَيْنِ) yaitu bunyi “an” diakhir kata harus di sanggah dengan ‘Alif (ا).

Contoh :
بًَا – طَبِيْبًَا = Huruf “ba” pada contoh “Thabiiban (seorang dokter)” disamping harus disanggah dengan ‘Alif (ا). Jadi tidak ditulis kata “Thabiiban” dengan bentuk berikut “طَبِيْبًَ “, melainkan di tulis dengan bentuk  طَبِيْبًَا

حًَا – فلاَّحاً = Huruf “ha” pada contoh “Fallaahan (seorang petani)” disamping harus disanggah dengan ‘Alif (ا). Jadi tidak ditulis kata “Fallaahan” dengan bentuk berikut “فلاَّحًَ “, melainkan di tulis dengan bentuk فلاَّحًَا

Selanjutnya perhatikan contoh berikut ini :

مُجَاهِدٌُ= Pada contoh di samping di baca “Mujaahidun (seorang mujahid)”

مُجَاهِدٍِ = Pada contoh di samping di baca “Mujaahidin (seorang mujahid)

مُجَاهِدًَا = Pada contoh di samping di baca “Mujaahidan (seorang mujahid)”

Yang perlu di catat bahwa perubahan bunyi “an, “in”, atau “un” diatas “sama sekali tidak merubah makna“.

Dari Contoh diatas ini, jika diperhatikan dengan lebih teliti, maka khusus pada kata “Mujaahidan” , mengapa bentuk huruf alif (ا) yang menyanggahnya tidak tertulis bersambung ..?

Dalam bhs arab, ada 6(enam) huruf yang tidak dapat disambungkan dengan huruf disebelah kirinya, yaitu

ا – د – ذ – ر – ز – و

Sehingga huruf ‘alif (ا ) yang menyanggah pada kata مُجَاهِدًَا tersebut harus dituliskan terpisah dari huruf د (dal).

Namun ada pengecualian dalam Kaidah “Fathahtain (فَتْحَتَيْنِ)” yaitu bunyi “an” diakhir kata tidak di sanggah dengan ‘Alif (ا), yaitu :

1. Jika sebuah kata berakhir dengan ta’marbuthoh atau (ة ), seperti kata :

مَدْرَسَةًً – سَاعَةًً – مَدِيْنَةًً

2. Jika sebuah kata berakhir dengan ‘Alif Maqsurah atau (ى ) = huruf “ya” (tanpa titik), seperti kata :

مَعْنًَى – مَلْهًَى – فَتًَى

(Nb. Uraian mengenai ‘Alif Maqsurah insyaallah pada pelajaran-pelajaran berikutnya)
3. Jika sebuah kata berakhir dengan hamzah atau ء , yang didahului oleh vocal panjang “a” seperti terdapat pada kata :

سَمَاءًَ – بِنَاءًَ

Demikianlah pelajaran ke-2 ini, semoga bermanfaat adanya. Insyaallah akan diteruskan pada pelajaran berikutnya.

Syukran.


I. Kaidah ‘Alif Lam (اَل)

01/01/2009

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

‘Alif Lam atau (اَل)  adalah 2(dua) Huruf yang muncul di awal kata benda seperti   اَلْبَيْتُ (”rumah itu“)   atau kata Sifat seperti  اَلْكَبِيْر (“besar”) yang biasanya diartikan dengan kata “itu” atau menentukan “tersebut”. Hal ini menunjukkan pengertian “tertentu / definite”, dan ciri seperti ini sering di sebut “Ma’rifah (مَعْرِفَةٌُ ) ”.

‘Alif Lam atau  juga ditemukan pada awal kata ganti penghubung, seperti اَلَّذِيْ, اَلَّتِيْ, اَلَّذِيْنَ yang semuanya itu berarti “yang”. Dimana dalam hal ini kata dengan arti “yang” adalah sebuah kata ganti penghubung.

Berkaitan dengan munculnya huruf ‘Alif Lam di awal kata benda atau kata sifat, dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu :

1. Kelompok Huruf Syamsyiah (الحروف الشمسية) terdiri dari 14 Huruf, yaitu :

ت ،ث ،د ،ذ ،ر ،س ،ش ،ص ،ض ،ط ،ظ ،ل ،ن

Jika ‘Alif Lam(اَل) masuk ke kata benda atau ke kata sifat yang huruf pertamanya adalah salah satu dari Huruf Syamsyiah diatas, maka
– Dalam Bacaan bunyi huruf Lam(ل), diasimilasikan   ke dalam bunyi Huruf Syamsiah tersebut.
– Dalam format Tulisan, huruf “Lam(ل)”, tidak menyandang tanda apapun diatasnya dan pada Huruf Syamsiah tersebut di berikan tanda “Syaddah” / ‘Tasydid” diatasnya dituliskan dengan bentuk ّ

Contohnya :

اَلتَّكَاثرُ = Pada contoh disamping terlihat bahwa huruf   اَل + ت , maka tidak dibaca “Al-Takaatsuru”, melainkan di baca “At-takaatsuru”.; dan jika dituliskan maka pada huruf (ل) tidak terdapat tanda apapun, sementara pada huruf ت, diberikan tanda “Syaddah (ّ ) “diatasnya

اَلصَّمَد ُ = Pada contoh disamping terlihat bahwa huruf  اَل + ص , maka tidak dibaca “Al-Shamadu”, melainkan di baca “Ash-shamadu”.; dan jika dituliskan maka pada huruf (ل) tidak terdapat tanda apapun, sementara pada huruf ص, diberikan tanda “Syaddah (ّ ) “diatasnya.

2. Kelompok Huruf Qamariah ( الحروف القمرية )terdiri dari 14 Huruf , yaitu :

ا ،ب ،ج ،ح ،خ ،ع ،غ ،ف ،ق ،ك ،م ،و ،ه ،ي

Jika ‘Alif Lam(اَل) masuk ke kata benda atau ke kata sifat yang huruf pertamanya adalah salah satu dari Huruf Qamariah diatas, maka
– Dalam Bacaan bunyi huruf “Lam(ل)”, dibaca dengan jelas atau tidak diasimilasikan ke Huruf Qamariah tersebut.
– Dalam format Tulisan, huruf “Lam(ل)”, menyandang tanda “sukun” / “mati” dituliskan dengan bentuk (° )

Contohnya :

اَلْجِبَالُ = Pada contoh disamping terlihat bahwa huruf اَل +ج maka akan dibaca “Al-Jibaalu”, dan jika dituliskan maka pada huruf  (ل) terdapat “sukun” atau “mati” ( °) diatasnya.

اَلْبَيْتُُ = Pada contoh disamping terlihat bahwa huruf  اَل  + ب , maka akan dibaca “Al-Baitu”, dan jika dituliskan maka pada huruf   (ل)  terdapat “sukun” atau “mati” ( °) diatasnya.

Sebagai tambahan bahwa huruf Alif (ا) di baca a yang terdapat pada awal kata al atau اَل diatas termasuk dalam “Hamzah Wasol”.

Bagaimana kaidah “Hamzah Wasol”, Insyaallah akan di uraikan pada pelajaran tersendiri  berikutnya.

Demikianlah pelajaran pertama ini, semoga bermanfaat.

Syukran